January 26, 2006

Pembaca Puisi terhebat:: Orang Prabumulih

Pembaca Puisi terhebat:: Orang Prabumulih

“Tiga hari lalu, dalam perjalanan dari Slipi menuju kantor saya di Sudirman, di dalam bis patas Mayasari Bhakti itu saya menemukan seorang pembaca puisi terhebat. Baru kali ini saya melihat pengamen yang membaca puisi, bisa menggetarkan orang-orang seisi bis,” Kata Nurman Priyatna tadi malam [25 januari 2006] di toko buku ak.’sa.ra, Kemang, Jakarta. Bertepatan dengan peluncuran antologi puisi Bunga Matahari, terbitan Avatar. Saya tertarik dengan apa yang disebutkan oleh salah satu “pembesar” komunitas bunga matahari itu. Tapi saya tidak pernah membayangkan, bahwa pembaca puisi “terhebat” itu, berasal dari Prabumulih, berasal dari Sumatera Selatan.

Beberapa saat kemudian, acara berlanjut ke tanya jawab, pembacaan puisi dan musikalisasi. Di tengah keriuhan itu saya mendapati wajah yang aku kenal, tapi mungkin lebih dari 10 tahu kami tidak pernah bertemu. Dia seorang teman sekolahku. Pernah satu SD, dan yang pasti kami sempat satu kelas ketika di SMP I Prabumulih.

 

“Reza!” Aku memanggilnya. Dia menoleh. Aku menyongsong laki-laki yang raut wajah tegas itu. Namanya memang Reza. Seringkali kami menambahkan nama lain di belakang namanya jika kebetulan ada yang bertanya, “Reza? Reza mana, ya?” maka namanya bisa berubah menjadi Reza Harun, karena dia anak pak Harun. Atau reza Bunayah, karena dia juga anak Bu Bunayah, guru di SMP kami. Nama lengkapnya, sih, kalau tak salah adalah Muhammad Reza Falevie.

 

Malam itu dia mengenakan kemeja warna putih yang gombrong, sama gombrongnya dengan celana model tukang sate yang ia kenakan. Cambangnya tampak baru dicukur beberapa hari sebelumnya.

Aku tak akan heran kalau dia juga hadir di acara peluncuran buku puisi malam ini. Saat masih SMP dia paling suka pelajaran Bahasa Indonesia. Terutama jika disuruh membaca puisi. Dulu saya pikir dia berbakat di bidang itu. Di depan kelas ia membaca puisi dengan sangat bersemangat. Tubuhnya tidak diam saja membelakangi papan tulis. Selalu bergerak. Mengitari ruangan, kaya ekspresi, suaranya menggelegar dengan pelafasan  yang tegas. Dia sangat... sangat menguasi ruangan kelas. Lalu, Hup! Jangan kaget kalau dia tiba-tiba melompat ke mejamu.

Kami bertukar kabar. Sekarang dia aktif di sebuah teater di daerah Slipi. Saya sempat menanyakan nama teaternya. Tapi karena riuh saya lupa apa yang sebutkan. Sayup-sayup --mungkin salah-- teater itu ada hubungannya dengan salah satu perempuan yang memiliki nama besar di dunia teater Indonesia. “Kalau lagi bokek, buntu, aku ngamen juga kadang-kadang.” Katanya tertawa.

Tiba-tiba, dia memanggil Nurman Priyatna, “Man, kenalkan... Ini teman lama ane. Eh, omong-omong ane kapan tampil.” Katanya sambil menyelempangkan selendang lebar di lehernya saat aku dan Nurman berjabat tangan.

Selang beberapa saat kemudian, Nurman yang juga berlaku sebagai pembawa acara menyebutkan, “Seperti yang saya sebutkan tadi, 3 hari lalu di bis Mayasari Bhakti saya menemukan pembaca puisi “terhebat” yang pernah saya lihat. Selanjutnya, kita panggil saja orangnya untuk membacakan puisi di sini. Silahkan, Reza...”

Alamak! Maksud si Nurman pembaca puisi “terhebat” itu adalah Reza! Aku bersemangat menepukkan tangan. Kemudian menikmati teman lama iru membaca puisi diiringi alunan suling sunda seorang temannya.

Tadi malam saya memahami apa yang membuat Nurman Priyatna. Meski bagi saya apa yang terjadi tadi malam tidak berbeda secara signifikan dengan kejadian sekitar 15 tahun lalu. Reza bukan membaca puisi. Dia sedang berteater. Bagi saya dia bukan pembaca puisi yang baik. Dia pemain teater yang memukau. Kalau ada yang tidak setuju dengan maksud saya membuat dikotomi antara pembaca puisi dan aktor teater, saya akan meralat perkataan saya. Maksud saya, dia pembaca puisi dengan teknik teatrikal yang memukau.

Terlebih dari itu, saya patut berbangga. Seorang pembaca puisi “terhebat” adalah teman saya.

* * *

Syam Asinar Radjam

 

Jakarta, 26 Januari 2006-01-26

 

Omong kosong syam yang lain dapat dibaca di: http://www.musimtugal.blog.com

 

 

 

Posted by syamar at 06:56:47 | Permanent Link | Comments (2) |
Comments
1 - Penggalan "...pengamen yang membaca puisi.." (yang muncul di search results blogger.com) yang membuat saya tertarik untuk singgah dan membaca. Terus terang tadinya saya mengira pengamen termaksud itu tidak berpendidikan tinggi; meskipun di sini juga tidak disebutkan, tapi menjadi anggota satu kelompok teater buat saya mencukupi, apalagi disebutkan memang sejak kecil sudah menunjukkan bakat membaca puisi.
Bagaimanapun, sebenarnya saya menyadari banyak pengamen yang berlatar belakang pendidikan tinggi, karena jarang ada yang menjadi pengamen karena paggilan jiwa (biasanya sih panggilan perut). Toh kesan pertama membaca penggalan di atas adalah "hmm, menarik. tanpa pendidikan khusus tentang kesusastraan? bukan main."
Setelah selesai membaca keseluruhan, saya mengakui kesalahan saya. Kalimat pembuka Anda berhasil menjerat saya dalam kedangkalan prasangka, hal yang saya sendiri sangat tidak suka. Saya jadi berpikir, apakah ada orang lain yang berkesimpulan awal sama? Atau ada yang berpikir lain? Atau ada yang tidak berprasangka apa-apa? Saya yakin Anda tidak bermaksud bermain-main dengan prasangka orang, meskipun kalau dilakukan secara sadar saya toh tidak keberatan. Atau saya salah juga dalam hal ini? (Comment this)

Written by: Juniar HWL at 2006/04/01 - 04:13:40
2 - Apa kabar rekan Syam? mohon maaf saya tiba-tiba muncul di blog ini, saya juga bingung bagaimana caranya, tadi saya cuma mencoba melacak alamat blog saya, tapi ternyata menemukan tulisan Anda tentang sahabat kita "Reza",

senang sekali membaca tulisan Anda. rasanya saya gak akan lupa cara Reza berpuisi dengan serluruh jiwanya di atas mayasari bakti. tak heran ia begitu piawai, rupanya dari kecil ia seperti itu. ckckck. Anda dan teman-teman di Prabumulih memang patut bangga.
saya sampai hari ini masih sering mencari diantara bis kota, karena ingin liat Reza baca puisi. tapi belum kesampaian. mudah2an saya bisa mengundangnya tampil di acara2 bungamatahari berikutnya, tentu Anda juga saya harapkan kedatangannya. ;)

salam,
nurman

 (Comment this)

Written by: nurman priatna at 2006/07/09 - 19:13:16
Write a comment