August 26, 2005

Seratus Cara Melarikan Diri

¢Tahukah Kamu, Paman Kucing?¢ Seekor rubah remaja membual di hadapan seekor kucing hutan yang sudah tua, ¢Aku menguasai banyak cara cerdik untuk menyelamatkan diri dari musuh.¢

 

 

 

¢Oh, ya?¢ Kucing hutan menanggapi dengan tenang sambil menjilati bulu di telapak kaki bagian depan sebelah kiri.

 

 

 

¢Mmm, aku punya sekarung cara. Ada seratus cara menyelamatkan diri di dalamnya.¢ Ia mengulangi bualannya.

 

 

 

¢Itu bagus sekali.¢

 

 

 

¢Dengan cara-cara berupa jurus dan tipuan-tipuan aku punya, tidak ada musuh yang bisa menyergapku. Apalagi cuma pemburu? Kecilll...!¢ Rubah meninggikan suaranya. Ia ingin kucing hutan memujinya lebih hebat. Bukan sekadar, ¢Bagus sekali.¢

 

 

 

¢Aku bisa menyamar jadi seperti rumput. Juga bisa menggali lubang lalu bersembunyi di dalamnya. Atau berlari lebih kencang dari angin. Bisa juga pura-pura mati. Paman lihatlah. Lihatlah!¢ Kata Rubah sambil bergerak sesuai apa yang baru ia ucapkan. ¢Paman sendiri punya beberapa cara?¢

 

 

 

¢Rubah muda,¢ Jawab kucing hutan itu,¢Aku hanya punya satu cara melarikan diri.¢

 

 

 

¢Karena Paman sudah tua dan mulai lemah, Paman harus belajar beberapa jurus dariku.¢

 

 

 

¢Terima kasih, Rubah Muda. Jika aku tertangkap, tandanya memang aku sudah tua dan tidak kuat lagi.¢ ucing hutan melangkah ke arah batang pohon didekatnya. Ia mencakar-cakar kulit pohon itu, untuk mengasah kukunya supaya tetap tajam.

 

 

 

¢Aha, kalau begitu Paman belajar tipuan saja. Ada beberapa tipuan yang tak perlu banyak tenaga, kok. Aku rasa jurus ¢Pungguk pingsan kejatuhan bulan¢, bisa Paman pelajari sebentar. Begini, nih...¢

 

 

 

Sang rubah meloncat ke depan, lalu menutup hidungnya hidung dengan dua kaki sampai mukanya memerah kehabisan nafas. Bergulingan hingga semua debu dan tanah menempeli bulu badan, lalu telentang seperti sudah mati.

 

 

 

¢Tidak sulit kan, Paman?¢ Lalu rubah mondar-mandir sebentar. Tiba-tiba ia melonjak, ¢Ada yang lebih gampang. Paman pernah lihat aku menggunakannya. Saat aku dikejar lima ekor elang, aku bisa mengelabui mereka dengan bertiarap di tanah sambil terus berjalan menjauhi mereka. Iya! Namanya jurus ¢rubah mengincar kelinci, elang terkecoh¢, Paman.¢

 

 

 

Kucing hutan tersenyum mendengar bualan itu. Sebenarnya ia tidak pernah menyaksikan elang-elang mengejar rubah, elang lebih suka menangkap anak ayam.

 

 

 

Di kejauhan terdengar sorak-sorai para pemburu. Juga gonggongan anjing-anjing milik pemburu.

 

 

 

¢Sepertinya, mereka menuju ke sini Rubah Muda.¢ Kata kucing hutan terperanjat.

 

 

 

¢Tenang, Paman. Aku sudah bilang mereka tidak akan menangkapku.¢ Rubah berkata membusungkan dadanya.

 

 

 

¢Cepat kamu bersembunyi atau berlari jauh,¢ Nasehat Kucing hutan.

 

 

 

¢Paman berlari dulu. Paman, kan hanya punya satu cara menyelamatkan diri.¢

 

 

 

¢Meski hanya satu, tapi dapat digunakan untuk setiap keadaan.¢ Kata Kucing hutan. Baru saja ia mengatakan itu, sorakan dan gonggongan terdengar makin jelas. Berarti, para pemburu dan anjing-anjingnya bertambah dekat.

 

 

 

Setelah terperanjat sebentar, kucing hutan langsung terbirit-birit memanjat pohon. Lalu bersembunyi di atas dahan. ¢Beginilah rencanaku menyelamatkan diri, Rubah Muda,¢ Kucing hutan berbisik keras dari balik daun-daun.  ¢Sekarang apa yang akan kau lakukan?¢

 

 

 

Rubah terdiam sejenak. Ia kelihatan bingung. ¢Ah, aku harus bersembunyi di balik batu.¢ Katanya ragu-ragu sambil melangkah tergesah ke arah batu.

 

 

 

¢Adduh! Batu ini terlalu kecil untuk menyembunyikanku.¢ Rubah berangkat kemudian mondar-mandir. ¢Mmm, aku harus membuat lubang.¢ Lalu rubah mulai menggali.

 

 

 

¢Aah, tanah di sini terlalu keras. Aku pura-pura mati saja. Ooh, tidak! Nanti aku dimakan anjing-anjing itu. Ya! Aku rasa bersembunyi di balik daun-daun itu ide yang bagus. Grussk!¢

 

 

 

¢Mudah-mudahan saja ia selamat.¢ Kucing hutan berdoa untuk keselamatan rubah muda. Baru saja doa diucapkan, kucing hutan mendengar rubah menggerutu.

 

 

 

¢Ti-tidak. Rasanya ini bukan ide yang paling cocok. Rubah itu berlari ke bawah pohon tempat kucing hutan bersembunyi. ¢Memanjat pohon? Ti-tidak! Itu ide kuno. Huh, kalau saja ada sungai di dekat sini, Tapi aku banyak akal. Yeaaah! Aku bisa bergelayut di akar-akar itu. Atau lebih baik tiarap di balik gundukan tanah. Kurasa, tidak juga. Tanah disini terlalu terbuka. Aku pasti akan gampang ketahuan.¢

 

 

 

¢Putuskanlah satu cara saja untuk menyelamatkan dirimu!¢ Kucing hutan menegaskan.¢Ini darurat!¢

 

 

 

Banyak sekali ide sang rubah. Dipikirkan dengan cermat setiap rencananya.

 

 

 

Saat masih berpikir bagaimana cara menyelamatkan diri, para pemburu sudah sangat dekat. Rubah Muda kebingungan, anjing-anjing pemburu sudah mengepungnya. Anjing-anjing itu kekar dan bertaring tajam. Tidak lama kemudian rubah pun tertangkap.

 

 

 

Rubah itu sudah kehabisan tenaga ketika seorang pemburu mengarahkan senapan ke arahnya. ¢Door!¢ Akhirnya sang rubah mati tertembak.

 

 

 

Kucing hutan menunduk sedih melihat kejadian itu. Sejak saat itu, ia selalu menasehati hewan penghuni hutan, ¢Memiliki satu cara menyelamatkan diri, lebih baik dari pada memiliki seratus cara tapi tidak dapat mempergunakannya.¢

 

 

 

* * *

 

 

 

Dari ¢The Fox and the Cat¢ dalam Fabel-fabel Aesop. Diceritakan kembali oleh Samara [Syam Asinar Radjam].

 

Posted by syamar at 11:17:29 | Permanent Link | Comments (0) |
Comments
Write a comment