Seorang Laki-Laki dan Pohon-Pohon
Aku tidak yakin akan mendapatkan sepotong dahan atau cabang kayu yang bagus, pikir laki-laki itu. Tapi ia itu tetap berjalan ke arah hutan yang tampak di kejauhan.
Ia belum pernah masuk ke hutan itu. Di tangannya ada sebuah kapak dengan gagang yang sudah hampir lapuk. Mata kapak itu sudah tidak tajam, berkarat dan sompal.
Gagang kapak mungkin ini akan patah begitu kuayunkan sewaktu memotong dahan, ia bergumam lagi. Ia tak akan sanggup memotong sebatang dahan pun.
Dan tibalah ia di hutan. Baiklah, aku akan minta saja sepotong dahan kepada pohon-pohon. Laki-laki itu pernah mendengar cerita bahwa pohon-pohon di hutan sangat baik hati. Orang-orang menceritakan bahwa pohon-pohon memberi buah untuk makanan para petani, burung-burung, kera atau tupai. Pohon juga menyimpankan air di dekat akar-akar. Maka jika musim kemarau datang, orang-orang desa dapat menemukan air dengan menggali sumur di sana. Para pejalan kaki dilindungi pohon saat beristirahat di bawah kerindangannya.
Bukankah pohon juga menjatuhkan ranting kering untuk kayu bakar? Pasti mereka tidak akan keberatan memberiku sepotong dahan. Laki-laki itu meyakinkan dirinya.
Lalu ia memohon kepada pohon-pohon yang berbaris di hadapannya. Maukah kalian memberiku sebuah cabang? Aku sangat membutuhkannya.
Pohon-pohon berpandangan. Lalu satu persatu menatap kasihan pada laki-laki yang bersimpuh di dekat akar-akar mereka.
Aku bisa membantumu. Pilihlah dahanku yang sesuai keinginanmu, Pohon besar berkata sambil tersenyum.
Dahanku juga boleh, terutama jika kamu butuh yang lurus, Pohon jangkung dan lurus turut menawarkan bantuan.
Ah, ambil punyaku saja. Dahanku sangat banyak, Timpal pohon rimbun.
Laki-laki itu lalu terdiam. Ia sudah tahu cabang yang akan ia pilih. Tapi, kalau kuambil satu cabang kalian, apa kalian tidak kesakitan? Ia menatap pohon-pohon.
Tenang saja, beberapa bulan di muka akan tumbuh cabang baru. Pohon-pohon menjawab bersamaan.
Setelah mengucapkan terima kasih atas kebaikan pohon-pohon, laki-laki itu pulang membawa sepotong dahan. Ia segera menyiapkan perkakas yang dibutuhkan sambil mengulang-ulang ucapan yang sama, Aku harus segera mengerjakannya.
Ia hendak membuat dahan pohon itu menjadi sesuatu. Lalu, Ia bekerja demikian bersemangat. Sore keesokan harinya pekerjaan itu selesai. Ia memandangi hasil kerjanya dengan puas. Sebuah gagang kapak yang baru. Indah dan kuat, sebab dahan itu bukan kayu biasa. Melainkan kayu tembesu, kuatnya menyamai besi.
Maka ia segera mencabut gagang kapaknya yang lama. Menggantinya dengan yang baru.
Hmmm, betul-betul indah. Ia mengagumi gagang kapak yang baru itu. Beberapa kali ia mengayun-ayunkan kapaknya seperti sedang menebang pohon. Ah, aku juga harus mengasah mata kapak ini.
Dengan segera, ia mengasahnya. Sampai benar-benar tajam dan mengilat ia baru berhenti. Kemudian menyimpan kapak yang menjadi seperti baru itu, dan beristirahat.
Pagi keesokan harinya, laki-laki itu datang lagi ke hutan. Pohon-pohon menyambutnya dengan gembira. Terutama pohon tembesu, yang jangkung dan lurus. Ia yang memberi laki-laki itu dahan.
Wah, gagang kapak yang indah. Pasti dari dahan yang kuberi kemarin. Kata sang pohon.
Laki-laki itu tidak menjawab, melainkan mengayunkan kapaknya yang tajam. Aku butuh kayumu. Pondokku sudah waktunya diperbaiki. Pohon tembesu itu roboh tak lama kemudian.
Laki-laki itu datang ke hutan setiap hari. Pohon-pohon ditebangi satu persatu. Mulanya hanya untuk memperbaiki pondok. Kemudian menebangi kayu-kayu pelawan yang kulitnya kemerahan untuk kayu bakar.
Jangan tebangi kami. Bukankah bisa mengumpulkan ranting kering untuk kayu bakar. Pohon-pohon pelawan mengiba dengan sedih. Laki-laki itu tidak menghiraukan. Malah terus melanjutkan pekerjaannya, menebangi pohon pelawan.
Sampai ketika ingin membangun rumah baru, ia mulai menebangi pohon jati. Ia ingin sebuah rumah yang besar. Maka banyak sekali pohon jati yang ditebangnya.
Lama kelamaan laki-laki itu juga menebang kayu-kayu lain. Ia ingin memagari rumahnya, membuat perabot seperti meja, kursi, lemari, dan rak. Ia juga membuat perkakas seperti gerobak, gagang cangkul, dan lainnya.
Hhh... anak-anak pohon tidak berguna. Menghalangi jalan saja! Kata laki-laki itu suatu ketika. Maka ia menebangi pohon-pohon muda untuk mempermudah jalan mengangkut kayu. Pohon-pohon tua bersedih melihat anak-anak mereka ditebangi.
Laki-laki itu tetap tidak peduli, meski ia mendengar rintihan pohon-pohon meminta belas kasihan. Ia selalu sibuk menebangi pohon. Banyak orang memesan kayu kepadanya.
Aku akan menebang kayu sebanyak-banyaknya. Setiap pagi ia ucapkan kata-kata itu. Ia ingin mendapatkan banyak uang dengan menjual kayu. Menebang kayu dilakukan semenjak matahari terbit, sampai menjelang gelap baru ia berhenti. Demikianlah setiap hari.
Beberapa tahun berlalu. Hutan yang dulu penuh kayu-kayu besar, kokoh dan rimbun, kini terlihat gundul. Hanya sedikit pohon besar yang tersisa. Sisanya semak-semak dan ilalang saja.
Pada suatu hari yang amat panas. Pohon-pohon besar yang terisa meratapi tunggul teman-temannya yang sudah mati.
Sunguh malang nasib kita, dan betapa bodoh apa yang kita lakukan dulu.
Seharusnya kita tidak memberi laki-laki itu sepotong dahan pun, seandainya apa yang kita beri ternyata dijadikannya senjata untuk menebangi kita.
Pohon-pohon itu kini menangis bersama.
* * *
Dari The Man and the Wood dalam Fabel-fabel Aesop. Diceritakan kembali oleh Samara [Syam Asinar Radjam].

