July 04, 2005

Sinesatron

Orang-orang di muncul di dalam tombol nomor remote control. Tiba-tiba kaya, tiba-tiba melarat dan kena cacar. Aku mengunyah calon biniku di ponsel. Garing seperti kerupuk kemplang ikan belida. Kadang gigiku tak kuat, jadi kukulum saja. Istriku muncul di gelas kopi yang mulai dingin. Aku sembunyi ke tumpukan kretek. Petak umpet. Batereku kuat, tapi sinyalnya lemah, kataku. Orang-orang berjoget dalam tabung berwarna. Seperti sekerumun sorak ketika kali pertama Marconi nyetel radio. Ketika desahku berakhir di kamar mandi, orang-orang dalam tombol nomor remote control seperti habis berkelahi. Ada yang tiba-tiba jadi lonte, ada yang langsung jadi da’i. Gelas kopiku sudah jadi asbak. Orang-orang dalam tombol nomor remote control senyum seperti resepsionis. Selamat Malam. Adakah kalian mau kurayu? Melompatlah dari tabung berwarna. Sayang remote controlku angka 0-nya copot dicuri iklan. Orang-orang dalam tombol nomor remote control tak terayu untuk singgah ke tikarku. Hei, bagaimana akhir ceritanya nanti, tanyaku. “Akhiri dulu ceritamu!” tandas mereka. Lalu iklan, lalu hantu-hantu, lalu mimpi-mimpi lagi, lalu pemakan bangkai, lalu ulat-ulat, lalu orang miskin kejatuhan emas sebesar deritanya sejak berabad lalu...

 

(Permata Hijau-- Jakarta, 29 April 2005)

Posted by syamar at 05:10:13 | Permanent Link | Comments (0) |
Comments
Write a comment