August 26, 2005

Seratus Cara Melarikan Diri

¢Tahukah Kamu, Paman Kucing?¢ Seekor rubah remaja membual di hadapan seekor kucing hutan yang sudah tua, ¢Aku menguasai banyak cara cerdik untuk menyelamatkan diri dari musuh.¢

 

 

 

¢Oh, ya?¢ Kucing hutan menanggapi dengan tenang sambil menjilati bulu di telapak kaki bagian depan sebelah kiri.

 

 

 

¢Mmm, aku punya sekarung cara. Ada seratus cara menyelamatkan diri di dalamnya.¢ Ia mengulangi bualannya.

 

 

 

¢Itu bagus sekali.¢

 

 

 

¢Dengan cara-cara berupa jurus dan tipuan-tipuan aku punya, tidak ada musuh yang bisa menyergapku. Apalagi cuma pemburu? Kecilll...!¢ Rubah meninggikan suaranya. Ia ingin kucing hutan memujinya lebih hebat. Bukan sekadar, ¢Bagus sekali.¢

 

 

 

¢Aku bisa menyamar jadi seperti rumput. Juga bisa menggali lubang lalu bersembunyi di dalamnya. Atau berlari lebih kencang dari angin. Bisa juga pura-pura mati. Paman lihatlah. Lihatlah!¢ Kata Rubah sambil bergerak sesuai apa yang baru ia ucapkan. ¢Paman sendiri punya beberapa cara?¢

 

 

 

¢Rubah muda,¢ Jawab kucing hutan itu,¢Aku hanya punya satu cara melarikan diri.¢

 

 

 

¢Karena Paman sudah tua dan mulai lemah, Paman harus belajar beberapa jurus dariku.¢

 

 

 

¢Terima kasih, Rubah Muda. Jika aku tertangkap, tandanya memang aku sudah tua dan tidak kuat lagi.¢ ucing hutan melangkah ke arah batang pohon didekatnya. Ia mencakar-cakar kulit pohon itu, untuk mengasah kukunya supaya tetap tajam.

 

 

 

¢Aha, kalau begitu Paman belajar tipuan saja. Ada beberapa tipuan yang tak perlu banyak tenaga, kok. Aku rasa jurus ¢Pungguk pingsan kejatuhan bulan¢, bisa Paman pelajari sebentar. Begini, nih...¢

 

 

 

Sang rubah meloncat ke depan, lalu menutup hidungnya hidung dengan dua kaki sampai mukanya memerah kehabisan nafas. Bergulingan hingga semua debu dan tanah menempeli bulu badan, lalu telentang seperti sudah mati.

 

 

 

¢Tidak sulit kan, Paman?¢ Lalu rubah mondar-mandir sebentar. Tiba-tiba ia melonjak, ¢Ada yang lebih gampang. Paman pernah lihat aku menggunakannya. Saat aku dikejar lima ekor elang, aku bisa mengelabui mereka dengan bertiarap di tanah sambil terus berjalan menjauhi mereka. Iya! Namanya jurus ¢rubah mengincar kelinci, elang terkecoh¢, Paman.¢

 

 

 

Kucing hutan tersenyum mendengar bualan itu. Sebenarnya ia tidak pernah menyaksikan elang-elang mengejar rubah, elang lebih suka menangkap anak ayam.

 

 

 

Di kejauhan terdengar sorak-sorai para pemburu. Juga gonggongan anjing-anjing milik pemburu.

 

 

 

¢Sepertinya, mereka menuju ke sini Rubah Muda.¢ Kata kucing hutan terperanjat.

 

 

 

¢Tenang, Paman. Aku sudah bilang mereka tidak akan menangkapku.¢ Rubah berkata membusungkan dadanya.

 

 

 

¢Cepat kamu bersembunyi atau berlari jauh,¢ Nasehat Kucing hutan.

 

 

 

¢Paman berlari dulu. Paman, kan hanya punya satu cara menyelamatkan diri.¢

 

 

 

¢Meski hanya satu, tapi dapat digunakan untuk setiap keadaan.¢ Kata Kucing hutan. Baru saja ia mengatakan itu, sorakan dan gonggongan terdengar makin jelas. Berarti, para pemburu dan anjing-anjingnya bertambah dekat.

 

 

 

Setelah terperanjat sebentar, kucing hutan langsung terbirit-birit memanjat pohon. Lalu bersembunyi di atas dahan. ¢Beginilah rencanaku menyelamatkan diri, Rubah Muda,¢ Kucing hutan berbisik keras dari balik daun-daun.  ¢Sekarang apa yang akan kau lakukan?¢

 

 

 

Rubah terdiam sejenak. Ia kelihatan bingung. ¢Ah, aku harus bersembunyi di balik batu.¢ Katanya ragu-ragu sambil melangkah tergesah ke arah batu.

 

 

 

¢Adduh! Batu ini terlalu kecil untuk menyembunyikanku.¢ Rubah berangkat kemudian mondar-mandir. ¢Mmm, aku harus membuat lubang.¢ Lalu rubah mulai menggali.

 

 

 

¢Aah, tanah di sini terlalu keras. Aku pura-pura mati saja. Ooh, tidak! Nanti aku dimakan anjing-anjing itu. Ya! Aku rasa bersembunyi di balik daun-daun itu ide yang bagus. Grussk!¢

 

 

 

¢Mudah-mudahan saja ia selamat.¢ Kucing hutan berdoa untuk keselamatan rubah muda. Baru saja doa diucapkan, kucing hutan mendengar rubah menggerutu.

 

 

 

¢Ti-tidak. Rasanya ini bukan ide yang paling cocok. Rubah itu berlari ke bawah pohon tempat kucing hutan bersembunyi. ¢Memanjat pohon? Ti-tidak! Itu ide kuno. Huh, kalau saja ada sungai di dekat sini, Tapi aku banyak akal. Yeaaah! Aku bisa bergelayut di akar-akar itu. Atau lebih baik tiarap di balik gundukan tanah. Kurasa, tidak juga. Tanah disini terlalu terbuka. Aku pasti akan gampang ketahuan.¢

 

 

 

¢Putuskanlah satu cara saja untuk menyelamatkan dirimu!¢ Kucing hutan menegaskan.¢Ini darurat!¢

 

 

 

Banyak sekali ide sang rubah. Dipikirkan dengan cermat setiap rencananya.

 

 

 

Saat masih berpikir bagaimana cara menyelamatkan diri, para pemburu sudah sangat dekat. Rubah Muda kebingungan, anjing-anjing pemburu sudah mengepungnya. Anjing-anjing itu kekar dan bertaring tajam. Tidak lama kemudian rubah pun tertangkap.

 

 

 

Rubah itu sudah kehabisan tenaga ketika seorang pemburu mengarahkan senapan ke arahnya. ¢Door!¢ Akhirnya sang rubah mati tertembak.

 

 

 

Kucing hutan menunduk sedih melihat kejadian itu. Sejak saat itu, ia selalu menasehati hewan penghuni hutan, ¢Memiliki satu cara menyelamatkan diri, lebih baik dari pada memiliki seratus cara tapi tidak dapat mempergunakannya.¢

 

 

 

* * *

 

 

 

Dari ¢The Fox and the Cat¢ dalam Fabel-fabel Aesop. Diceritakan kembali oleh Samara [Syam Asinar Radjam].

 

Posted by syamar at 11:17:29 | Permanent Link | Comments (0) |

Seorang Laki-Laki dan Pohon-Pohon

“Aku tidak yakin akan mendapatkan sepotong dahan atau cabang kayu yang bagus,” pikir laki-laki itu. Tapi ia itu tetap berjalan ke arah hutan yang tampak di kejauhan.

 

Ia belum pernah masuk ke hutan itu. Di tangannya ada sebuah kapak dengan gagang yang sudah hampir lapuk. Mata kapak itu sudah tidak tajam, berkarat dan sompal.

 

“Gagang kapak mungkin ini akan patah begitu kuayunkan sewaktu memotong dahan,” ia bergumam lagi. “Ia tak akan sanggup memotong sebatang dahan pun.”

 

Dan tibalah ia di hutan. “Baiklah, aku akan minta saja sepotong dahan kepada pohon-pohon.”  Laki-laki itu pernah mendengar cerita bahwa pohon-pohon di hutan sangat baik hati. Orang-orang menceritakan bahwa pohon-pohon memberi buah untuk makanan para petani, burung-burung, kera atau tupai. Pohon juga menyimpankan air di dekat akar-akar. Maka jika musim kemarau datang, orang-orang desa dapat menemukan air dengan menggali sumur di sana. Para pejalan kaki dilindungi pohon saat beristirahat di bawah kerindangannya.

 

“Bukankah pohon juga menjatuhkan ranting kering untuk kayu bakar? Pasti mereka tidak akan keberatan memberiku sepotong dahan.” Laki-laki itu meyakinkan dirinya.

 

Lalu ia memohon kepada pohon-pohon yang berbaris di hadapannya. “Maukah kalian memberiku sebuah cabang? Aku sangat membutuhkannya.”

 

Pohon-pohon berpandangan. Lalu satu persatu menatap kasihan pada laki-laki yang bersimpuh di dekat akar-akar mereka.

 

“Aku bisa membantumu. Pilihlah dahanku yang sesuai keinginanmu,” Pohon besar berkata sambil tersenyum.

 

“Dahanku juga boleh, terutama jika kamu butuh yang lurus,” Pohon jangkung dan lurus turut menawarkan bantuan.

 

“Ah, ambil punyaku saja. Dahanku sangat banyak,” Timpal pohon rimbun.

 

Laki-laki itu lalu terdiam. Ia sudah tahu cabang yang akan ia pilih. “Tapi, kalau kuambil satu cabang kalian, apa kalian tidak kesakitan?” Ia menatap pohon-pohon.

 

“Tenang saja, beberapa bulan di muka akan tumbuh cabang baru.” Pohon-pohon menjawab bersamaan.

 

Setelah mengucapkan terima kasih atas kebaikan pohon-pohon, laki-laki itu pulang membawa sepotong dahan. Ia segera menyiapkan perkakas yang dibutuhkan sambil mengulang-ulang ucapan yang sama, “Aku harus segera mengerjakannya.”

 

Ia hendak membuat dahan pohon itu menjadi sesuatu. Lalu, Ia bekerja demikian bersemangat. Sore keesokan harinya pekerjaan itu selesai. Ia memandangi hasil kerjanya dengan puas. Sebuah gagang kapak yang baru. Indah dan kuat, sebab dahan itu bukan kayu biasa. Melainkan kayu tembesu, kuatnya menyamai besi.

 

Maka ia segera mencabut gagang kapaknya yang lama. Menggantinya dengan yang baru.

 

“Hmmm, betul-betul indah.” Ia mengagumi gagang kapak yang baru itu. Beberapa kali ia mengayun-ayunkan kapaknya seperti sedang menebang pohon. “Ah, aku juga harus mengasah mata kapak ini.”

 

Dengan segera, ia mengasahnya. Sampai benar-benar tajam dan mengilat ia baru berhenti. Kemudian menyimpan kapak yang menjadi seperti baru itu, dan beristirahat.

 

Pagi keesokan harinya, laki-laki itu datang lagi ke hutan. Pohon-pohon menyambutnya dengan gembira. Terutama pohon tembesu, yang jangkung dan lurus. Ia yang memberi laki-laki itu dahan.

 

“Wah, gagang kapak yang indah. Pasti dari dahan yang kuberi kemarin.” Kata sang pohon.

 

Laki-laki itu tidak menjawab, melainkan mengayunkan kapaknya yang tajam. “Aku butuh kayumu. Pondokku sudah waktunya diperbaiki.” Pohon tembesu itu roboh tak lama kemudian.

 

Laki-laki itu datang ke hutan setiap hari. Pohon-pohon ditebangi satu persatu. Mulanya hanya untuk memperbaiki pondok. Kemudian menebangi kayu-kayu pelawan yang kulitnya kemerahan untuk kayu bakar.

 

“Jangan tebangi kami. Bukankah bisa mengumpulkan ranting kering untuk kayu bakar.” Pohon-pohon pelawan mengiba dengan sedih. Laki-laki itu tidak menghiraukan. Malah terus melanjutkan pekerjaannya, menebangi pohon pelawan.

 

Sampai ketika ingin membangun rumah baru, ia mulai menebangi pohon jati. Ia ingin sebuah rumah yang besar. Maka banyak sekali pohon jati yang ditebangnya.

 

Lama kelamaan laki-laki itu juga menebang kayu-kayu lain. Ia ingin memagari rumahnya, membuat perabot seperti meja, kursi, lemari, dan rak. Ia juga membuat perkakas seperti gerobak, gagang cangkul, dan lainnya.

 

“Hhh... anak-anak pohon tidak berguna. Menghalangi jalan saja!” Kata laki-laki itu suatu ketika. Maka ia menebangi pohon-pohon muda untuk mempermudah jalan mengangkut kayu. Pohon-pohon tua bersedih melihat anak-anak mereka ditebangi.

 

Laki-laki itu tetap tidak peduli, meski ia mendengar rintihan pohon-pohon meminta belas kasihan. Ia selalu sibuk menebangi pohon. Banyak orang memesan kayu kepadanya.

 

“Aku akan menebang kayu sebanyak-banyaknya.” Setiap pagi ia ucapkan kata-kata itu. Ia ingin mendapatkan banyak uang dengan menjual kayu. Menebang kayu dilakukan semenjak matahari terbit, sampai menjelang gelap baru ia berhenti. Demikianlah setiap hari.

 

Beberapa tahun berlalu. Hutan yang dulu penuh kayu-kayu besar, kokoh dan rimbun, kini  terlihat gundul. Hanya sedikit pohon besar yang tersisa. Sisanya semak-semak dan ilalang saja.

 

Pada suatu hari yang amat panas. Pohon-pohon besar yang terisa meratapi tunggul teman-temannya yang sudah mati.

 

“Sunguh malang nasib kita, dan betapa bodoh apa yang kita lakukan dulu.”

 

“Seharusnya kita tidak memberi laki-laki itu sepotong dahan pun, seandainya apa yang kita beri ternyata dijadikannya senjata untuk menebangi kita.”

 

Pohon-pohon itu kini menangis bersama.

 

* * *

 

Dari “The Man and the Wood” dalam Fabel-fabel Aesop. Diceritakan kembali oleh Samara [Syam Asinar Radjam].

 

Posted by syamar at 10:36:10 | Permanent Link | Comments (0) |

Serigala Berbulu Domba

“Matilah aku. Ini betul-betul malapetaka!” Seekor serigala tua berjalan terseok-seok di padang rumput. Dari kejauhan, ia tak henti menoleh ke kawanan domba yang bergerak seperti awan di tiup angin.

 

Serigala tua menghadapi kesulitan terbesar sekarang. Ia tidak bisa lagi memburu domba-domba itu. “Padahal, kalau tidak memangsa domba aku bisa mati kelaparan.”

 

Di kayu rebah di gundukan bukit ia berhenti lalu duduk memandangi padang rumput. “Anak-anak domba yang gemuk. Dagingnya pasti manis dan empuk, mmmh.”

 

“Matilah aku, matilah aku...” Katanya lagi. Ia ingin berhenti melihat ke sana. Pemandangan itu membuatnya makin lapar. Serigala tua mencari siasat. Setiap kali menemukan siasat, ia segera putus asa. Ada bocah gembala di antara kawanan domba, yang membuat serigala tua tak bisa menangkap seekor domba pun.

 

Serigala tua ingat saat pertama kali hendak menangkap domba milik gembala itu.

 

“HEEEAHHH...!!! Pergi kamu, Serigala tua! Tidak akan ada lagi domba untukmu!”

 

“Uphs...” Serigala tua terkejut dan bermaksud berlari menyelamatkan diri. Tapi, tongkat panjang sang gembala menggebukinya sampai terguling-guling. Meski terluka parah, serigala tua berhasil menyelamat diri.

 

Bocah itu benar-benar waspada. Setiap serigala tua mendekat ke arah domba, bocah gembala itu sudah mengejarnya lebih dahulu dengan mengayunkan tongkatnya. Setiap hari bocah itu berhasil memukuli serigala tua.

 

“Aaah, pukulan tongkat itu sungguh menyakitkan.” Serigala tua itu mendengus kesal.

 

Meski selalu berhasil melarikan, serigala tua selalu terluka parah. Bocah gembala itu tidak sendirian.

 

“Anjing-anjing gembala juga selalu berhasil menggigitku,”  Serigala tua berpikir sambil mondar-mandir. Ia hampir putus asa.

 

“Aku harus mencari mangsa lain,” Serigala tua berhenti mondar-mandir, “Aku harus berjalan-jalan, mungkin akan dapat seekor tikus atau tupai tanah.”

 

Ia berjalan ke arah tepian padang yang agak tandus. “Semoga ada sisa buruan burung nazar.” Kemudian serigala tua mengendus-enduskan hidungnya ke udara. Biasanya angin meniupkan bau-bauan makanan.

 

Tiba-tiba, ia mencium sesuatu. Sepertinya bukan bau daging segar, tapi ia kenal bau itu. “Slrrrrp, Lumayan. Bau daging domba yang dikeringkan. Barangkali saja dendeng?”

 

Serigala tua itu sering melihat petani dan gembala mengunyah dendeng domba. Dari cara mereka memakan dendeng itu seiris demi seiris, air liur serigala tua menetes. Slrrrrp...

 

“Yihaaa! Baunya sudah dekat. Sepertinya dari balik semak itu.” Serigala tua tak tahan lagi. Perutnya makin keroncongan. Ia melompati semak itu, dan “Bruuuk!”

 

“Sial! Cuma selembar kulit domba.” Ia memaki-maki kemudian membuangnya. Seorang gembala pasti tidak sengaja menjatuhkan kulit domba yang bagus dan lebar itu. Tapi kulit itu tidak berguna bagi serigala.

 

Dengan lemas, serigala tua berjalan lagi. Sampai di persimpangan jalan setapak ia berhenti. Sepertinya ia mendapat ide.

 

“Kali ini pasti berhasil!” Ia melompat-lompat kemudian berlari kembali ke semak-semak tadi. Kulit itu ia bawa ke sarangnya. Lalu berputar-putar di depan cermin dengan memakai kulit domba sebagai bajunya.

 

“Aha, aku akan menyamar,” Serigala tua menyeringaikan taringnya yang tajam.  

 

Tak lama kemudian.

 

“Asik, bocah gembala itu tidak mengenaliku,” Serigala tua berjalan mengendap-endap di tengah kerumunan domba, “Anjing-anjing juga.”

 

Domba-domba di padang rumput juga tidak menyadari ada domba asing di antara mereka. “Sebab kulit dan bau badanku sama dengan mereka, mbeeek...” Serigala tua bicara sendiri dan mulai menirukan suara domba.

 

“Paman, apakah paman tahu dimana ibuku?” Seekor anak domba menanyai serigala tua.

 

“Tentu aku tahu, anak manis,” Jawab serigala tua, “Aku akan mengantarmu menemuinya.”

 

“Terima kasih, Paman.”

 

“Ayo kita temui ibumu!” Ajak Serigala dengan licik.

 

Maka serigala tua mulai beraksi. Ia menggiring anak domba yang malang itu ke tempat yang terpisah jauh dari domba lain.

 

“Paman, mengapa kita berjalan ke sini? Domba kecil heran.

 

“Ibumu sedang mencari rumput di balik batu besar itu,” Jawabnya. “Bagaimana menurutmu kalau kita mengejutinya dari belakang, anak manis?”

 

“Oh, ya? Aku senang, itu ide bagus.” Domba kecil tersenyum girang.

 

“Nah, mulai sekarang kita berjalan tanpa suara. Kamu di depan, ya.”

 

Domba kecil menyetujui saran serigala tua.

 

Dan sampai di sana. “Dimana ibuku, Paman?” Tanya domba kecil menengok ke belakang. Kulit domba di tubuh serigala tua sudah terlepas.

 

“P-paman... a-ada-lah... sri – ga – la...” Ia terkejut dan mencoba berlari. Tapi serigala tua lebih cepat menangkapnya. Domba kecil berusaha melepaskan diri dan berteriak minta tolong. Tapi tidak ada yang mendengar. Mereka terlalu jauh dari kumpulan domba dan sang gembala. Domba kecil itu kehabisan tenaga. Akhirnya ia menjadi santapan serigala tua.

 

Begitulah setiap hari. Serigala tua selalu berhasil menyamar dan menipu domba-domba, dan memakan anak-anak domba satu per satu.

 

Apa yang tampak oleh mata seringkali membuat kita terkecoh.

 

* * *

 

Dari “The Wolf in Sheep’s Clothing” dalam Fabel-fabel Aesop. Diceritakan kembali oleh Samara [Syam Asinar Radjam].

 

 

Posted by syamar at 09:22:20 | Permanent Link | Comments (0) |

Empat Ekor Lembu Jantan dan Seekor Singa

“Bahaya!” Kata seekor lembu pada tiga lembu lainnya. “Apakah kalian mendengar suara singa?”

 

Keempat lembu yang sedang merumput di padang hijau dan luas mengangkat kepala.

 

“Ya, aku mendengarnya. Sepertinya singa itu sendirian.” Sahut lembu berkulit putih totol coklat.

 

“Kalau dia menyerang kita, kita harus berusaha melawannya.”

 

“Baiklah, jangan berpencar. Kita musti saling melindungi, kawan-kawan!”

 

Ketiga lembu lain mengangguk. Lalu mereka melanjutkan makan rumput dalam jarak berdekatan dan tetap waspada.

 

Benar sekali, seekor singa sedang mengendap menuju lembu-lembu itu. “Auhmmm... lapar sekali,” Singa itu mengaum dari balik rumput-rumput yang tinggi, “Lembu-lembu yang gemuk. Auhmm...!”

 

Tak lama kemudian singa itu sudah sangat dekat dengan para lembu.

 

“Cepat! Merapat kawan-kawan” Lembu gemuk berkulit coklat belang putih memberi isyarat. Lembu lainnya segera merapat saling membelakangi. Ekor mereka saling mendekati.

 

“Auhmm!” Singa itu siap menerkam ke arah lembu yang paling gemuk. Tapi lembu itu sudah siap mengibas-ibaskan tanduknya.

 

Singa yang kelaparan itu mencoba menerkam. Tapi luput. Malah perutnya hampir terluka terkena tanduk lembu yang kuat dan tajam.

 

“Aaaghh! Sakit sekali.” Singa meringis, meski tidak luka oleh tanduk, namun perutnya terasa sakit sekali. Lalu ia berlari mengitari keempat lembu.

 

Lembu-lembu merapatkan posisi mereka, saling melindungi satu sama lain. Mereka seperti membuat benteng yang kuat. Dari arah manapun sang singa akan menerkam, tanduk-tanduk lembu menghadangnya.

 

Singa itu sangat kelaparan. Sudah beberapa hari hanya makan hewan-hewan kecil seperti kelinci saja. “Lembu-lembu ini akan lengah atau kecapaian,” Katanya dalam hati.

 

Dugaan singa itu salah. Setiap kali ia menyerang, para lembu sudah sangat siaga. Sampai sore hari, singa itu belum berhasil menerkam mangsanya. Malah, perut dan pipi singa itu robek berdarah.

 

“Uphs, kalau begini aku bisa mati. Nggak lucu. Masa’ singa mati oleh tanduk mangsanya.” Singa akhirnya kelelahan. Akhirnya ia mundur menjauh dan pulang ke sarangnya.

 

Keesokan harinya, singa itu kembali mencoba menerkam salah satu lembu.

 

“Kawan-kawan, dia datang lagi! Berkumpuuul!” Seekor lembu berteriak.

 

“Auuhmmm! Hari ini aku pasti berhasil.” Sang singa melompat sepenuh tenaga.

 

Para lembu tetap saling melindungi seperti hari sebelumnya. Ditambah rasa percaya diri yang besar, karena sebelumnya mereka berhasil mengusir singa itu. “Rasakan tajamnya, tandukku!” Kata  lembu coklat belang putih.

 

Singa dengan sigap berhasil menghindar kibasan tanduk itu. Ia berputar ke arah kanan. Lalu menyerang salah satu lembu yang dia kira lengah.

 

“Pergi Kamu!” Kata lembu paling kurus.

 

Dan, Crasssh! Tanduk sang lembu kurus berhasil mengiris tepian leher singa. Singa melolong kesakitan, lalu pergi mengobati lukanya.

 

Kejadian seperti itu terjadi berkali-kali. Hari demi hari, singa tak dapat menerkam satu pun dari keempat lembu. Singa kelaparan, ia hanya makan kelinci, tupai tanah, burung-burung dan hewan kecil lainnya. Demikianlah hingga beberapa minggu, beberapa bulan. Akhirnya singa itu kurus dan tak punya semakin merasa putus asa. Tenaganya pun semakin melemah karena kekurangan makanan.

 

Para lembu pun merasa yakin bahwa singa itu sudah tidak berani lagi menincar mereka. “Sekali lagi ia menyerang kita, ia akan terluka parah dengan tandukku!” Kata salah satu dari mereka.

 

“Aku rasa juga begitu,” Lembu lain menimpali. “Jangankan melawan kita secara serentak, melawan aku sendiri saja ia pasti akan kelelahan.”

 

“Itu benar! Lihatlah caranya berjalan. Sudah tidak bertenaga. Tidak menyeramkan sama sekali.”

 

“Kawan-kawan, Menurutku kita tetap harus waspada dan bersatu melawannya.”

 

“Aaah... dasar penakut!”

 

“Sudahlah, jangan gusar. Dia tidak akan berani lagi!”

 

“Iya! Tidak perlu terlalu kuatir. Mari kita merumput lagi.”

 

Keempat lembu kemudian dapat menikmati rumput-rumput segar dengan tenang tanpa merasa terancam.

 

“Mmm, menyenangkan. Kawan-kawan, sepertinya rumput-rumput muda sedang tumbuh di dekat danau. Kita ke sana!” Lembu putih totol coklat mengajak teman-temannya.

 

“Malas, ah. Rumput di sini, juga segar.” Jawab lembu gemuk coklat belang putih, “Kamu saja ke sana saja sendiri, kalau mau.”

 

“Aku akan ke pucuk bukit. Rumput muda di sana lebih enak.” Lembu kulit kuning akhirnya bicara sambil bergerak menuju ke atas gundukan bukit.

 

Akhirnya mereka berpisah. Lembu kurus mencari tempat yang paling aman baginya, sebuah padang kecil yang terlindung oleh tebing-tebing batu.

 

Dari kejauhan, singa melihat peristiwa itu. “Ahha! Sekarang saatnya. Mereka berpisah dan tidak bisa saling melindungi.”

 

Singa dengan cepat berlari menuju ke lembu yang sendirian. Meski lembu berusaha melawan mati-matian, tapi singa terlalu kuat untuk dihadapi sendiri. Tak lama kemudian lembu itu mati dan menjadi santapan singa.

 

Akhirnya, satu demi satu lembu mati diterkam harimau. Karena keempat lembu lupa dengan semboyan pernah mereka ucapkan, “Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh”.

* * *

 

Dari “The Four Oxen and the Lion” dalam Fabel-fabel Aesop. Diceritakan kembali oleh Samara [Syam Asinar Radjam].

Posted by syamar at 07:51:38 | Permanent Link | Comments (0) |

Pohon Besar dan Serumpun Ilalang

“Akulah yang paling kuat di sini,” Sebatang pohon bicara sambil memamerkan otot-ototnya di suatu pagi yang cerah. Ia selalu bicara tentang kehebatan-kehebatannya setiap hari. Seolah banyak yang mendengarkan. Padahal ia hanya mempunyai satu tetangga di padang yang kering itu. Tetangganya adalah serumpun ilalang yang kurus.

 

Pohon itu memang tampak kuat. Badannya besar, selebar pelukan dua orang anak. Lurus dan tinggi menjulang ke angkasa. “Aku juga paling tinggi.  Tak ada yang bisa melihat pemandangan yang jauh sepertiku.”

 

“Tahukah kamu, aku bisa melihat tepian laut dan gunung.” Sang pohon membual. Padang itu sangat jauh dari pantai, dan satu gunung pun tak tampak. Pulau tempat padang itu berada, bentuknya datar saja.

 

“Hei, anak kecil,” Ia menegur rumpun ilalang kurus yang sejak tadi bersikap seolah tak mendengar perkataan sang pohon. Ilalang itu hampir bosan mendengar kesombongan pohon yang selalu diucapkan setiap hari. Tapi sang pohon bersikap seolah ia belum pernah menceritakan hal itu sekali pun.

 

Ilalang kurus mendongak.

 

“Mengapa kamu tidak menanamkan akarmu jauh ke dalam tanah? Dan seharusnya kamu meninggikan pucukmu hingga menjulang ke udara. Seperti aku!”

 

Ilalang itu tersenyum. “Aku senang dengan tubuhku seperti ini,” Jawabnya dengan tenang.

 

“Memang, aku tidak akan menjadi kokoh sepertimu. Tapi, kurasa aku merasa sangat aman.”

 

“Apa katamu? Aman?” Sang pohon tersenyum mengejek. “Kau pikir, siapa yang bisa mencabutku atau menghempaskan tubuhku ke tanah?”

 

Ilalang kemudian memilih diam. Ia malas mendebat. Ia terbiasa dengan kesombongan sang pohon.

 

Menjelang siang, angin bertiup sepoi-sepoi. Rasanya sejuk. Sebelum sampai ke padang, angin telah melewati lautan dan danau-danau. Uap air dari lautan dan danau, juga dari pucuk-pucuk rumput dan dedaunan ikut terbang bersama angin. Tak lama kemudian, angin terasa bertiup lebih deras.

 

“Wah sebentar lagi kita akan beterbangan.” Sebutir daun kering di tanah bicara kepada kerikil dan pasir.

 

“Kira-kira kita akan terbang dan pindah ke mana, ya?” tanya sebutir pasir.

 

“Bagiku semua tempat, sama indahnya.” Kata sebutir debu yang menempel di atas daun kering.

 

Beberapa saat kemudian itu terjadi.

 

“Whiuuu! Kita mulai terbang!” Debu itu bersorak. “Barangkali di antara kita semua disini, aku yang akan terbang paling jauh.”

 

“Ya, biasanya memang begitu,” Jawab kerikil.

 

Debu, pasir, kerikil dan daun kering memang selalu siap jika angin besar datang.

 

Tak lama kemudian hal yang mereka bicarakan terjadi. Angin juga mendorong awan-awan berkumpul.

 

“Haha, menyenangkan sekali.” Sang pohon terlihat gembira. “Hei, ilalang kurus, lihat betapa indahnya daun-daunku saat ditiupi angin!”

 

Pohon itu terlihat seperti sedang menari bersama angin.

 

“Suatu hari nanti, aku akan semakin tinggi. Di atas sana pasti anginnya lebih deras. Tentu, lebih menyenangkan.”

 

“Hmmm, Sepertinya akan ada badai.” Kata ilalang dengan pelan. Ia mengetahui itu dari perubahan-perubahan angin dan awan. “Semoga saja bukan badai besar...”

 

“Biar saja badai besar! Kau pikir aku takut?” Tukas sang pohon.

 

“Hai pohon, kita tidak boleh sombong.” Setelah mengatakan itu, ilalang berdoa supaya badai tidak terjadi.

 

Tapi badai tetap terjadi. Awan-awan berkumpul di langit. Tebal sekali, berwarna hitam menutupi matahari. Angin bersiut sangat deras. Suaranya betul-betul menakutkan. Apalagi hujan telah turun sangat deras disertai  kilatan-kilatan petir. Petir-petir itu menyambar-nyambar ke tanah. Suasana tambah mencekam dengan munculnya suara-suara guruh.

 

Pohon besar masih tertawa girang bermain bersama angin yang luar biasa riuh. “Ayo, tunjukkan padaku seberapa hebat kekuatan badai itu?”

 

Ilalang kurus di bawahnya sudah tampak kepayahan bergoyang-goyang diterjang angin. Terakhir angin memelintir rumpunnya. Ilalang itu patah. Daunnya rebah menyenggol tanah. Ia kesakitan. Tapi ia bersukur, angin justru tidak lagi terasa kencang setelah ia rebah.

 

“Wah, Kurus! Ternyata kekuatanmu hanya sebegitu. Kamu lemah sekali.” Sang pohon menengok ke bawah, dimana ilalang kurus terbaring menahan rasa sakit. Ia tidak menyadari sebuah angin bergulung, angin topan, datang dari kejauhan.

 

“Hahaha, kamu percaya apa yang kukatakan tadi pagi, kan?!  Akarku menembus tanah jauh ke dalam dan mencengkeram banyak batuan di dalamnya. Tubuhku juga besar, tidak mungkin patah oleh angin.”

 

Ilalang kecil tidak menjawab, kecuali meminta sang pohon untuk waspada.

 

“Haha, tak ada yang sanggup mencabutku dari tanah atau menghempaskan tubuhku ke tanah?”

 

Tapi kemudian ia menyesali ucapannya. Angin topan yang berbentuk seperti kerucut sudah di depannya. Angin itu demikian kuat. Mula-mula dipelintirnya batang pohon. Lalu mengangkati tanah di dekat akar. Sang pohon besar sempat bertahan untuk beberapa lama. Tapi ia kehabisan tenaga. Akar-akarnya tak kuat lagi mencengkeram di tanah.

 

“Kraaak!” Sebuah dahan sang pohon patah. Lalu, “Aaagh!” Pohon berteriak kesakitan ketika angin berhasil mencabutnya dari tanah. Bongkahan tanah berjatuhan dari akarnya yang sudah lemah. Oleh angin, pohon yang selalu menyombongkan kehebatannya itu diputar-putarkan di udara .

 

Pohon itu terlempar ke tanah, persis di tempat pernah tumbuh. Lalu, badai berangsur-angsur reda.

 

Seminggu kemudian, dari sela-sela rumpun ilalang yang patah pucuk-pucuk daun baru tumbuh. Beberapa minggu kemudian, ilalang itu telah berdiri tegak. Seolah badai tidak pernah membuatnya rebah.

 

Pohon besar yang terbaring menatap sedih. Sekarang ia menyesali kesombongannya dahulu.

 

* * *

 

Dari “The Tree and the Reed” dalam Fabel-fabel Aesop. Diceritakan kembali oleh Samara [Syam Asinar Radjam].

Posted by syamar at 07:37:35 | Permanent Link | Comments (0) |
1 2