July 05, 2005

Seorang Lelaki, Perempuan Tua, dan Ombak

pi

Seorang Lelaki, Perempuan Tua, dan Ombak

Sajak Syam Asinar Radjam

: Pi & perempuan tua di salah satu jendela Pulau Puteri

 

Perempuan tua dan rambutnya yang ditumbuhi salju. Pandangannya mengoyak kaca jendela. Laut menembus rumah kayunya. Laki-laki muda menyandarkan kepala pada lengan di sisi perahu. Tangannya membasahi laut, jemarinya menenggelamkan ombak. Perempuan tua mengintip tirai. Tirai meneropong kaca jendela. Jendela menyentuh perahu di lautan. Laki-laki muda matanya digelayuti gelombang. Gelombang mengayuh perahu menuju pulau. Pulau menjemput perahu. Laki-laki muda belum terjaga. Tangannya membasahi laut, jemarinya menenggelamkan ombak. Perempuan tua menuliskan gumamannya pada angin yang menetes di ventilasi, “Aku pernah menjadi ombak.”

 

[Teluk Jakarta – Kepulauan Seribu – Kamar no 55 Pulau Puteri – Permata Hijau Blok D 11 – 12, 25 Juni – 1 Juli 2005]

 

Posted by syamar at 04:16:46 | Permanent Link | Comments (0) |

July 04, 2005

Sinesatron

Orang-orang di muncul di dalam tombol nomor remote control. Tiba-tiba kaya, tiba-tiba melarat dan kena cacar. Aku mengunyah calon biniku di ponsel. Garing seperti kerupuk kemplang ikan belida. Kadang gigiku tak kuat, jadi kukulum saja. Istriku muncul di gelas kopi yang mulai dingin. Aku sembunyi ke tumpukan kretek. Petak umpet. Batereku kuat, tapi sinyalnya lemah, kataku. Orang-orang berjoget dalam tabung berwarna. Seperti sekerumun sorak ketika kali pertama Marconi nyetel radio. Ketika desahku berakhir di kamar mandi, orang-orang dalam tombol nomor remote control seperti habis berkelahi. Ada yang tiba-tiba jadi lonte, ada yang langsung jadi da’i. Gelas kopiku sudah jadi asbak. Orang-orang dalam tombol nomor remote control senyum seperti resepsionis. Selamat Malam. Adakah kalian mau kurayu? Melompatlah dari tabung berwarna. Sayang remote controlku angka 0-nya copot dicuri iklan. Orang-orang dalam tombol nomor remote control tak terayu untuk singgah ke tikarku. Hei, bagaimana akhir ceritanya nanti, tanyaku. “Akhiri dulu ceritamu!” tandas mereka. Lalu iklan, lalu hantu-hantu, lalu mimpi-mimpi lagi, lalu pemakan bangkai, lalu ulat-ulat, lalu orang miskin kejatuhan emas sebesar deritanya sejak berabad lalu...

 

(Permata Hijau-- Jakarta, 29 April 2005)

Posted by syamar at 05:10:13 | Permanent Link | Comments (0) |

Dyah Nyiur, Anak Perempuan Kami.

Dyah Nyiur, anak perempuan pertama kami yang belum dibuat. Kemaluanku juga belum kugesekkan pada mesin auto-debet. Jangan cuma jadi sekedar perempuan. Matahari mulai sukar membentuk bayang-bayang. Jemuran basah diam saja. Angin hanya tertiup bersama genangan karbon dari knalpot. Dyah nyiur, anak perempuan pertama yang belum kami buat. Jika laut bernasib baik, anak kami akan lahir di tepiannya. Mengajarinya berenang dan mengirim pesan dalam botol. Ibunya, istriku, bingung mengajarinya memasak dan menyulam. Jika pagi bernasib baik, anak kami akan lahir bersama matahari. Segera mandi, kata ibunya. Taburkan bedak di ketiak. Buang iklan gincu itu, kataku. Kalau kami yang beruntung, Dyah Nyiur adalah satu dari 999 saudara sedaging yang tertendang ibunya.

 

(Permata Hijau-- Jakarta, 29 April 2005)

Posted by syamar at 05:03:25 | Permanent Link | Comments (0) |