KPA Sumatera Selatan Dalam Gerakan Lingkungan Hidup1]
Syam Asinar Radjam2]
Sepotong Perjalanan KPA Sumsel
Suatu waktu lampau, beberapa individu tertantang untuk hidup lebih dekat dengan lingkungan dan melakukan banyak aktivitas di alam terbuka. Pertengahan dekade 1970-an, dengan atau tidak bergabung di sebuah perkumpulan, pemuda (umumnya mahasiwa) di Palembang mulai mendaki Gunung Dempo, Seminung, Bukit Maras di Pulau Bangka, dan ekspedisi ke gunung luar sumsel, menyusuri Sungai Musi, dll. Terbentuk pula beberapa organisasi atau kelompok pecinta alam (KPA) pada dekade yang sama. Diantaranya, COBRA yang sekarang bernama Wighna Manggala, Gemapala Wigwam FH Unsri (1976), IMPALM dulu akronim dari Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam FP Unsri (1977) dan Mafesripala FE Unsri (1978).
Pada gilirannya terbentuk pula KPA baik di tingkat perguruan tinggi (MAPALA Mahasiswa Pecinta Alam) dan di tingkat sekolah menengah (Sispala Siswa Pecinta Alam), diantaranya, Gema Persada LH dan Brimpals, Mapala IAIN, Mapala IBA, Mapala Unanti, Ganesha SMA 3 Palembang, Wanala Agung SMU I Palembang, Wapasri SMU Srijaya Negara, dll. Di Tingkat Perguruan Tinggi, bermunculan KPA dari fakultas-fakultas, antara lain Himpala Bhuwana Cakti di FT Unsri, Alfedya FE UMP, Mapala Galia FKIP UMP, bahkan di tingkat Jurusan Green Machine Spirit FT-Mesin Unsri, Cikara Buana FT-Tambang Unsri, dan MAPHANTERA FP-Teknik Pertanian Unsri. Lahir pula KPA yang berasal dari luar lembaga pendidikan, antara lain K-9 (komunitas 9), Bahana Alam Sriwijaya (BAS), dll.
Tidak hanya di wilayah Kota Palembang, di luar Palembang pun terbentuk HIPPALA SMU I Prabumulih, KPA Cakra di Pagar Alam, beberapa Sispala dan Mapala di Lubuk Linggau yang tergabung dalam Gabungan Pecinta Alam Silampari (Gapasilpa), Stepa STIE Lahat, dll. Sampai dengan sekarang aktivitas Kelompok Pecinta Alam ini terus bergeliat.
KPA dan Lingkungan Hidup
Bukan main kondisi lingkungan Sumsel saat ini. Bisa disebut, Sumatera Selatan sudah habis. Meningkatnya jumlah penduduk telah mendorong perubahan pada kondisi alam. Banyak lahan dibuka guna dijadikan areal pemukiman yang juga menghasilkan sampah domestik yang berkontribusi mengotori wilayah perairan dan darat. Lebih-lebih jika dihitung berapa perizinan yang dikeluarkan untuk konversi hutan, rawa, kawasan pesisir, dan daerah pasang surut untuk, bermacam sektor ekonomi. Perhitungan kasar menyebutkan bahwa 70 % daratan Sumsel telah diserahkan kepada kekuatan modal untuk sektor pertambangan, HPH, HTI, perkebunan skala besar, pertambakan, industri dll.
Maka yang terjadi adalah eksploitasi sumber daya alam yang tak terkendali. Pada gilirannya, dampak dari itu semua adalah pengurangan lahan dan ekosistem yang mengakibatkan terjadinya, kelangkaan lahan bagi petani, pencemaran, kelangkaan keanekaragaman hayati, pemanasan global, dan lain-lain. Dengan kata lain, pola pengelolaan sumber daya alam yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi ternyata lebih besar implikasinya terhadap degradasi lingkungan hidup.
Lalu apa hubungannya dengan keberadaan KPA sendiri? KPA dalam penampakan eksistensinya lebih kerap beraktivitas di alam terbuka (outdoor), sekalipun mulai banyak melakukan kegiatan yang in-door dengan mengadakan seminar-seminar, pameran, pagelaran kesenian, dll. KPA juga mampu merekayasa kondisi alam (asli) ke kegiatan yang tidak harus di tempat yang benar-benar alami, misalnya kebiasaan panjat tebing yang disimulasikan dengan panjat dinding. Namun, wilayah main KPA secara spiritual lebih kental di tebing-tebing alam, hutan, rawa, sungai, gunung, goa, dll.
Kondisi alam yang semakin tidak perawan, misal gunung yang telah dikupas untuk perkebunan teh, bukit dilubangi tambang terbuka, hutan rimba diganti satu jenis tanaman saja, akasia atau sawit, dan sungai yang tidak lagi tening sedikit banyak akan mengurangi ruh dan tantangan anggota KPA dalam menghayati keberadaan alam.
Seorang pendaki gunung senior, mengeluh mengatakan bahwa mendaki Bukit Serelo sudah kehilangan kenikmatannya karena begitu sampai di puncak yang terlihat bukan hamparan hijau yang luas. Tetapi tambang yang semakin dekat. Seorang lain mengatakan bahwa mendaki Gunung Kaba di Curup Bengkulu sudah kehilangan tantangannya, sebab jalan aspal sudah sampai ke puncak. Beberapa Anggota Mapala yang kerap melakukan pendidikan bagi calon anggota mereka di Gunung Dempo mengatakan, bahwa mereka semakin sulit melakukan pengajaran orientasi medan dengan kondisi gunung yang sudah separuh telanjang oleh perkebunan teh.
KPA pada praktek dan sejarahnya bukan hanya kumpulan turis melayu yang hanya mendaki gunung untuk mengambil gambar terbenamnya matahari. Almarhum Soe Hok Gie, anggota Mapala UI yang juga aktivis mahasiswa angkatan 66, pergi ke gunung-gunung juga untuk mengetahui kondisi masyarakat pedesaan kaki-kaki gunung. Sampai saat ini banyak aktivis lingkungan yang masih eksis dan konsisten dalam melakukan pembelaan lingkungan juga orang-orang yang ditempa di KPA.
Ruang KPA Berperan
Saat ini yang kemudian banyak terlihat di permukaan justru kalangan organisasi non pemerintah (ornop) lingkungan yang melakukan pembelaan terhadap kerusakan lingkungan hidup. Katakanlah, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Wahana Bumi Hijau, Wetlands International-Indonesia Programme, dll.
KPA secara satu-persatu seakan semakin tergerus eksistensinya sebagai pembela lingkungan. Padahal, sekalipun agak reaksioner, KPA beberapa kali muncul pada moment-moment tertentu, katakanlah pada Hari Bumi (22 April). Pada Hari Bumi 2000 - 2002, Aliansi Pecinta Alam Untuk Hari Bumi, Aliansi KPA Sumsel (AKPAS) pada tahun 2002, dan Pusat Informasi Pecinta Alam (PIPA) pada 2003.
Semakin terpuruknya kondisi lingkungan mendesak dilakukannya kerja dan upaya untuk mengatasinya pola pikir dan tindakan yang eksploitatif dan manusia terhadap alam dan lingkungan menjadi penyebab degradasi lingkungan. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, adalah penyadaran terhadap manusia. Pengejawantahan dari upaya tersebut melalui program-program pendidikan lingkungan. Sehingga diharapkan terbentuk manusiamanusia yang memiliki pemahaman yang arif dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Tentulah, pendidikan lingkungan hidup bukan barang baru bagi KPA. Sebab, pendidikan lingkungan sekaligus telah dijadikan metode rekrutmen bagi anggota-anggota baru KPA. Pada tahun 2003, IMPALM, Mafesripala dan Gemapala Wigwam, mencoba menyelenggarakan Pendidikan Konservasi Alam (PKA) untuk KPA region Sumatera. PKA dipilih sebagai salah satu metode berbagi informasi mengenai kerusakan alam dan konflik pengelolaan sumber daya alam, peningkatan kapasitas KPA dan membangun komunikasi antar KPA.
KPA merupakan salah satu komponen masyarakat sipil yang selalu berinteraksi dengan alam dalam beraktivitas. Dengan takdir KPA yang didekatkan dengan alam tersebut, seharusnya paradigma pengelolaan sumber daya alam yang arif dan berkeadilan menjadi wacana yang membumi di kalangan KPA.
Bukan hanya pada wilayah penyadaran yang hanya bisa diisi oleh KPA, banyak peran lain. KPA bahkan bisa masuk ke wilayah sosial ekonomi masyarakat selain wilayah hobby. Berpetualang di alam terbuka harus tetap menjadi bagian penting dalam aktivitas KPA dalam proses pengenalan terhadap lingkungan sekitar.
* * *
1] Sebuah opini untuk peringatan hari lingkungan hidup, 5 Juni 2005, dipublikasikan oleh Harian Pagi Sumatera Ekpress 14 Juni 2004
2] Syam Asinar Radjam adalah anggota IMPALM.



