December 30, 2005

Gaian Politique (sebuah rangkuman)

Gaian Politique (sebuah rangkuman)

Oleh: Wiliam Irwin Thompson (penekun sejarah budaya)

1) Setiap intelektual yang berorientasi politik mencari ideology baru.Tetapi ideologi bagi pikiran adalah seperti ekskresi bagi badan: sisa-sisa yang kosong dari ide yang sebelumnya hidup.  

 

2) Kebenaran tidak dapat diekspresikan dengan ideologi, karena kebenaran adalah kehidupan-bersama di atas konflik ideologi yang bertentangan. Dengan demikian, kebenaran tidak dapat diketahui dengan proses analisis intelektual, kritik, atau komunikasi rasional. Kebenaran tidak dapat juga dipersembahkan oleh elit filsafat atau agama. Karena "tahu" adalah bentuk "kesadaran semu". Elit adalah bentuk institusi dari kesadaran semu ini yang menghancurkan perasaan kasih sayang dari kehidupan bersama kita di dunia ini.

3) Dunia bukanlah suatu ideologi atau sistem dari ideologi-ideologi. Tapi, dunia adalah struktur dari hubungan-hubungan yang tak disadari dan proses-proses simbiosis. Dalam komunikasi yang hidup ini ada ekologi. Bahkan aspek irasional seperti polusi, kriminalitas, perang dan iblis dapat menjadi dasar pembentuk integrasi dimana negasi adalah suatu bentuk dari penekanan dan benci adalah bentuk ketertarikan melalui apa kita menjadi apa yang kita benci. Sebagai contoh, perang dunia kedua di Eropa dan Pasifik menggambarkan chaos dan kehancuran melalui organisasi sosial yang paling besar. Organisasi trans-nasional ini menghasilkan transisi dari peradaban yang diatur oleh rasionalitas menuju ekosistem planet dimana stress, terorisme, dan bencana dipelihara secara tidak sadar untuk memelihara integrasi dunia. Melalui terorisme yang diperbesar secara elektronik, tingkat stress dan integrasi melalui bencana ini masih bekerja sekarang ini. Karena itu dunia jangan dilihat sebagai organisasi yang diatur oleh komunikasi rasional, tetapi sebagai kombinasi dari sistem-sistem yang tidak kompatibel melalui apa kekuatan yang saling menolak menjadi cara untuk mempersatukan di dalam meta-domain yang tidak kelihatan namun dibangun oleh kekuatan reaktif ini.

4) Ideologi tidak menggambarkan proses kehidupan yang lengkap dari dunia ini. Proses yang tidak disadari muncul dan tidak bergantung dari tujuan yang disadari. Bayangan ekonomi (seperti lalu-lintas obat terlarang), dan bayangan export (seperti hujan asam dari satu negara ke negara yang lain), dan bayangan integrasi (seperti perang), semua itu memperkuat munculnya suatu bioma yang tidak diatur oleh tujuan yang disadari.

5) Manusia, karena itu, tidak pernah "tahu" apa yang mereka kerjakan.   Ada , secara definisi, adalah lebih besar daripada tahu. Manusia berada dalam domain yang dibentuk oleh kebalikan, dengan memikirkan suatu hal, tetapi mengerjakan yang lain. Maka negasi menjadi suatu bentuk penekanan dimana polisi merangsang perampok, selibasi merangsang seksualitas, sains merangsang tahayul irasional dan chaos. Dalam domain polisi dan perampok, pelarangan membentuk black market dan ekonomi bayangan. Dalam domain selibasi, pelarangan memitoskan represi dan meningkatkan nafsu. Dalam domain sains, kebencian akan ketidak-pastian, keasingan dan ketidak-teraturan menciptakan kepercayaan tahayul dari teknologi sebagai cara kontrol dan kekuatan. Maka per coba an irasional seperti energi nuklir dan teknologi genetika menjadi bentuk yang kelihatannya seperti aktifitas yang dapat diatur tetapi menghasilkan chaos dan penyakit.

6) Alam bukanlah suatu tempat atau keadaan sesuatu. Alam adalah abstraksi manusia yang kita bentuk melalui aktifitas budaya. Kita menggunakan abstraksi ini untuk menjustifikasi aktifitas budaya ini sebagai "alami". Proses abstraksi ini adalah tautologi yang kosong. Alam, kalau menurut agama Buddha, adalah tidak berdasar. Maka, kita tidak dapat mencari dukungan alam untuk mengutuk bahwa suatu aktifitas adalah tidak alami. Karena alam berubah dengan budaya, keduanya adalah kosong dan terikat bersama dalam "asal yang berkaitan" atau "pratityasamutpadha". Teknologi genetika, artifisial intelejen, atau tenaga nuklir tidak dapat dikutuk dengan dasar hal itu tidak natural. Mereka hanya bisa ditolak dengan dasar bahwa hal itu tidak bijaksana secara spiritual atau tidak diinginkan secara estetika.

7) Tujuan yang disadari dari sains adalah kontrol dari alam. Efek yang tidak disadari adalah gangguan dan chaos. Munculnya budaya sains merangsang kerusakan alam, biosfir dari hubungan-hubungan diantara tumbuhan, binatang dan manusia yang kita sebut "alam". Penciptaan dari budaya sains memerlukan penciptaan alam sains. Tetapi karena kebanyakan aktifitas sains adalah tidak  disadari, irasional dan tahayul, alam yang diciptakan sains adalah suatu sistem abstrak dan chaos, misalnya dunia dari nuklir dan senjata. Semakin bertambah chaos, semakin sains masuk ke dalam sistem abstrak dari kontrol, dan semakin bertambah lagi chaos. Tidak ada jalan keluar dari lingkaran setan ini melalui rasionalitas sederhana, atau melalui sistem pemerintahan yang diturunkan dari rasionalisasi masyarakat ini.

8) Transisi dari satu dunia ke dunia lain adalah bencana. Bencana adalah munculnya kesadaran atas proses yang tidak disadari. Ini adalah perasaan berada di dalam domain yang tidak dikenal melalui pikiran. Bencana seringkali dirangsang oleh kegagalan untuk merasakan munculnya suatu domain, maka yang tidak dapat dirasakan dalam imajinasi akan dialami sebagai sensasi dalam bencana. Ketika rasional dan pemerintahan tidak lagi memberikan rasa hidup yang sebenarnya dari dunia, maka kesadaran menjadi berada dalam pengalaman diluar gambaran-dunia, tetapi tetap dalam meta-domain yang tidak kelihatan. Proses yang disadari digambarkan dalam imajinasi. Proses yang tidak disadari digambarkan dalam "karma", atau munculnya aktifitas diluar pemikiran dan perasaan. Bencana adalah transisi yang tiba-tiba dalam budaya-alam, melalui apa "tahu" menjadi pembuka dari "ada". Momen melewati bencana ini, saat partisipasi ini, memberikan kesempatan untuk perubahan dari aktifitas karma menjadi pencerahan.  Jadi, transisi dari satu struktur dunia ke struktur yang lain ditandai dengan bencana dimana proses yang tidak disadari menjadi kelihatan. Pada saat itu dapat terjadi pembalikan yang tiba-tiba dimana yang tak terpikirkan menjadi memungkinkan.

9) Tidak ada elit yang dapat membantu kita memikirkan transisi dari satu dunia ke yang lain, tetapi imajinasi dan kasih sayang mengijinkan kita merasakan apa yang tidak kita mengerti. Ketika "alam" mencapai akhir dalam budaya sains kita, hubungan antara yang tidak disadari dengan yang disadari akan berubah dan kesadaran dalam bakteri dan artifisial intelijen akan memberi kita apresiasi mengenai animisme dari pandangan dunia yang lama. Manusia dari bentuk sejarah budaya-alam akan berakhir dalam dunia irasional dari malaikat dan iblis, elemental dan cyborg. Dalam dunia sains-fiction ini, meta-domain yang tidak kelihatan dimana kita sedang hidup, akhir dari alam sebagai karma yang tidak disadari membuat pencerahan dan kasih sayang menjadi kemungkinan politik yang baru.

[Sumber: Didi Satiadi, dalam milis lingkungan]

Posted by syamar at 06:32:42 | Permanent Link | Comments (0) |

December 29, 2005

Keluarga Kecil Radjam

Posted by syamar at 06:16:55 | Permanent Link | Comments (0) |

December 26, 2005

Pernahkah Saya Ke Magelang?

Pernahkah Saya Ke Magelang?

Syam Asinar Radjam

Pernahkah saya ke Magelang?

Hampir pukul 8 malam, Jum’at 2 hari menjelang natal di tahun 2005 saya dan Ria –calon isteri saya--, tiba di bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Kami pun segera memesan taksi untuk meneruskan perjalanan ke Magelang. “Berangkatnya nanti, ya. Kami makan malam dulu,” Kata saya ke petugas di tempat pemesanan taksi.

 

Sesaat sebelum kami siap berangkat, dan saya sedang ke toilet dan berlanjut ke wartel untuk menelepon keluarga di Prabumulih, di luar Jakarta ponsel CDMA saya tidak berguna. Ria, menemukan seseorang. Adalah Aryo, saudara sepupu ria– anak laki-laki adik bapaknya yang tinggal di Magelang. Rupanya Aryo menjemput Dini, kakak perempuannya yang hanya berbeda pesawat dengan kami. Akhirnya kami putuskan membatalkan taksi yang sudah dipesan, dan ikut mobil Aryo saja.

Kebetulan sekali! Saat memesan taksi kami sempat bertanya, apakah taksi akan melalui pusat kota Yogya agar kami sempat menikmati wedang ronde di alun-alun kota kesultanan itu. Tapi taksi menuju Magelang tidak melalui pusat kota, melainkan melalui jalan lingkar. Lagipula, kalaupun sopir taksi bersedia mengantarkan kami berjalan sebentar, kami harus menyisihkan tambahan biaya ke sopir taksi. Bersama Aryo, kami bisa!

Tak lama kemudian kami berempat sudah menikmati wedang ronde di depan SDN Keputran di Alun-alun Utara Keraton, Yogya. Lagu-lagu diperdengarkan oleh sebuah band yang mengamen di sana. Tapi menjelang pukul sepuluh kami sudah harus menyudahinya dan segera menuju Magelang.

Ini adalah perjalanan pertama saya ke kota dimana sepasang calon mertua saya berasal. Saya diajak hadir pada acara keluarga Ria. Yakni mengunjungi Eyang, ibu dari ibu Ria, yang merayakan natal. Momen ini juga dimanfaatkan oleh keluarga Ria untuk melakukan pemotretan pra-nikah kami berdua. Begitulah riwayatnya mengapa saya sampai mengunjungi magelang kali ini.

Kota itu berjarak 45 kilometer di sebelah utara Yogyakarta, kata Aryo. Berarti sekitar 45  ke depan kami akan sampai. Ria menanyakan, apakah saya tertidur? Kujawab, sayang sekali kalau perjalanan ke kota yang pertama kali kukunjungi dilewatkan dengan tertidur.

Perjalanan menuju Magelang dilewati dengan jalan aspal yang aneh. Di jalur menuju Yogya, kondisi aspalnya tampak mulus. Tapi jalur menuju Magelang --yang selanjutnya menuju Semarang, tidak rata. Menurut Aryo, itu akibat pembangunan di ibukota propinsi. Maksudnya, Semarang. Setiap hari barisan truk berat membawa pasir dari gunung Merapi berjalan menuju Semarang. Sementara saat truk kembali dari Semarang menuju Yogyakarta, truk-truk sudah dalam keadaan kosong.

Begitu masuk kota Magelang –kota kecil yang dilingkupi wilayah Kabupaten Magelang — mereka banyak menyebutkan sesuatu tentang Magelang untuk mengenalkannya pada saya. Salah satunya adalah Bukit Tidar, yang katanya berada di sebelah kiri arah mobil kami. Aku hanya melihat gelap di sana-sini kecuali bagian yang ditimpa lampu-lampu.

Tidak tinggi, sih –belakangan dari referensi di internet aku tahu ketinggiannya 500 dml— tapi capek sekali mencapai puncaknya, kata Ria. Ditambahkannya pula, bukit itu dianggap sebagai “pakuning Pulau Jawa” atau paku Pulau Jawa. Legenda menyebutkan pulau Jawa dulu terapung-apung di tengah lautan. Agar tidak terombang-ambing, pulau ini dipakukan hingga ke pusat bumi.

Ada banyak yang dikenalkan. Tapi saya lupa satu demi satu. Hingga kami pun sampai ke penginapan. Udara sejuk pegunungan kota menerbitkan rasa nyaman luar biasa. Saya berencana akan mengelilingi Magelang dan banyak menulis saat di kota itu.

Malam itu kami berempat ngobrol ringan sambil menunggu kedatangan rombongan Bapak dan Ibu Ria dari Surabaya, keluarga calon ipar dari Malang, dan Pakde dari Solo.

* * *

24 desember 2005, separuh hari kami lewati dengan membuat foto. Sesi pertama, Pak Win, pakde yang datang dari Solo mengiringi kami dengan senang hati sambil menenteng kamera. Ia menjeprat-jepretkan kamera dengan cara yang membuat kami rileks. Tidak perlu berakting. Kami hanya cukup berjalan-jalan di tepian Kali Progo dalam kawasan penginapan. Kami saling berpegangan tangan sambil melompati batu, atau duduk di batu besar tengah air kali. Saling berbisik, menyelipkan bunga liar di telinga ria, duduk berhadapan di bangku kayu, dll. Kami juga tak harus bermake-up. Pak Win mengambil gambar dengan cara mencuri, snap-shot.

Sesi selanjutnya, cukup melelahkan. Nang, adik Ria yang berprofesi sebagai fotografer profesional sekaligus mengusahakan studio foto di Malang menginginkan foto-foto yang menurutnya memenuhi standar. Mulailah kegiatan foto-foto tidak semenyenangkan sebelumnya.

Sambil difoto, Ria seringkali cemberut mendengar instruksi Nang, “Tangan Mbak Ria, yang rileks dong” atau, “Mas Chan coba tumitnya agak ditekuk. Tidak. Bukan dijinjit. Pandangannya pandangannya ke sini. Geser dikit. Ya. Lihat ke tangan Nang.” Katanya sambil melambaikan tangan di sebelah kepalanya. “Mbak Ria lihat ke Mas Chan, dong.” Dan lain-lain.

Pada tengah hari kegiatan berfoto usai untuk sementara. Akan dilanjutkan lagi sore manakala sinar matahari mulai lindap. Siang itu keinginan saya untuk segera keluar dari penginapan dan berkeliling kota dengan becak atau jalan kaki dikalahkan oleh rasa kantuk dan letih. Sampai kemudian dibangunkan lagi untuk melanjutkan mengambil foto dengan latar sunset di Gunung Sumbing, dan beberapa titik lain di taman penginapan.

Malam hari, acara dilanjutkan menyambangi Eyang di rumahnya di Wates. Sampai hampir pukul 01.00. Dan begitu kembali ke penginapan, saya sudah letih. Menulis pun rasanya tak sanggup lagi.

* * *

Karena kecuali saya dan Ria sepertinya tidak ada yang puas dengan hasil pemotretan yang telah dilakukan, akhirnya pemotretan diulangi pada hari Minggu, 25 Desember 2005. Kelemahan itu dinilai terdapat pada banyak sisi, make-up yang terlalu tipis, warna pakaian kurang cerah. Juga tidak telalu bagus pada pengadeganan, ekspresi wajah dan gerak tubuh.

Pemotretan berlangsung sampai dengan waktunya bersiap check-out. Kami pun sempat mampir lagi ke rumah Eyang di Wates. Dan sempat ke rumah yang dibangun Bapak dan Ibu di Jurang Ombo. Cuma ke sana saja, Meskipun sempat melihat kota ini dari balik jendela mobil. Di Jurang ombo tak lama. Tidak sampai satu jam. Lalu segera menuju Yogyakarta.

Tak terasa, kami pun sampai bandara Adi Sucipto. Di ruang tunggu bandara saya bertanya-tanya dalam hati. Kemudian tersenyum-senyum sendiri. Pernahkah saya ke Magelang? Sebenanrnya saya bisa jawab: pernah!

Harap jangan melanjutkan pertanyaan. Terutama, “Sudah kemana saja di Magelang?!” Hehehe, saya cuma ke Hotel Puri Asri, kok.

[syam ar: Jakarta, 26 des 05]

Posted by syamar at 09:07:54 | Permanent Link | Comments (1) |

December 22, 2005

Mari Mengasihani Hidup

Mari Mengasihani Hidup

Mari mengasihani Hidup. Bernyawa hanya sebatang. Berkehendak kerap terlarang. Kepompong ulat menangis, manakala mendapati dirinya harus menjelma kupu-kupu.

 

[Syamar: Jkt, 22 Desember 2005] 

Posted by syamar at 08:47:00 | Permanent Link | Comments (0) |

December 14, 2005

Yakuhimo

Alammu dirampas, perutmu melemas. Anak-anak dan jompo meratap.Sehelai daun jatuh mengharap tatap. Seorang menteri datang, lengoskan pandang. Ini bukan kelaparan katanya pada barisan anjing penjaga istana. Cuma keterlambatan bantuan. Seonggok traktor kerontang solar berkata jumawa, salah sendiri tak tanam padi! Tangan bupati meninju pencari berita. Yakuhimo meneteskan airmata di tanah merangas. Tangan kecil seorang bayi mengaisnya. Ia harus siapkan kuburnya sendiri.

 

-SyamAR: Permata Hijau, 14 Des 05-

Posted by syamar at 09:51:28 | Permanent Link | Comments (1) |