October 13, 2005

Prabu Mimpi Mulih

Prabu Mimpi Mulih

 

Prabumulih mendatangiku kemarin siang. Dongeng mendiang nenek menyembul di mangkuk acar tadi malam, di kota tempat mimpiku pernah bersarang. Pondok labu mengukir sendok makan yang menyuapiku cita-cita. Detik berdetak di kalender lama, terbangbersama selembar tiketpesawat suatu selasa. Kenapa tidak Minggu? Prabumulih menggosok punggungku sedari kemarin yang bermatahari penuh tanpa karbon dioksida. Berangkatlah, katanya. Aku sudah berbau selasih, katanya lagi.

 

(Prabumulih, 01-05-2005/11:56:45 pm)

Posted by syamar at 13:15:21 | Permanent Link | Comments (0) |

Night on Prabumulih

Night on Prabumulih

 

Lampu jalan merontah. Ia menyempit di leher seorang jenderal. Seorang, kerjanya hanya memancing di sungai yang mengalir di kerongkongan 7000 pengangguran, diupah 1,4 milyar rupiah. Air es sdang bekerja meluruhkan bintang. Kapal seorang teman tertindih 26 perda tentang upeti. Otaknya berai. Jalan menyempit di leher seoang jenderal.Para pemancing dan dan seorang berupah 1,4 milyar memaki hujan. So, it’s bad week end. Nasi uduk dari stasiun siap diantar bersama kwitansi. 5,4 milyar, Pak walikota!

 

(Prabumulih, 02-05-2005/ 01:41:34 am)

Posted by syamar at 13:13:20 | Permanent Link | Comments (1) |